Perkembangan Ukiran Kayu dari Jepara Sampai Dikenal Dunia

Post a Comment

Salah satu produk lokal paling unggul di Jepara adalah ukiran kayu. Ketika membahas tentang Jepara, seni ukir menjadi pokok bahasan yang seringkali dibicarakan. Hal itu tak lepas dari kisah seni ukir Jepara di masa lampau, dan adanya julukan-julukan dari dalam negeri. Sampai akhirnya produk ukiran kayu ini dapat mendunia.

Perjalanan seni ukir kayu asal Jepara ini cukup panjang. Konon, kerajinan ukiran kayu ini sudah ada sejak Jepara  jadi bagian dari Kerajaan Kalinyamat. Berikut uraian selengkapnya.



1. Asal Usul Seni Ukir Jepara




Legenda tentang pengukir dan pelukis dari zaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit diceritakan secara turun temurun di kota Jepara. Hingga saat ini, legenda tersebut tertanam kuat. Banyak orang yang percaya bahwa legenda itu merupakan sejarah awal kota Jepara dikenal dengan ukiran kayunya dan memiliki pengrajin yang mahir menciptakan karya seni ini.

Dilansir dari portal resmi Indonesia.go.id, diceritakan bahwa dahulu kala Prabangkara, seorang ahli lukis dan ukir, dipanggil oleh Raja Brawijaya untuk melukis isterinya dalam keadaan tanpa busana sebagai wujud cinta sang raja. Sebagai pelukis, ia harus melukis melalui imajinasinya tanpa boleh melihat permaisuri dalam keadaan tanpa busana.

Prabangkara melakukan tugasnya dengan sempurna sampai kotoran seekor cecak jatuh mengenai lukisan itu sehingga lukisan permaisuri mempunyai tahi lalat. Raja sangat puas dengan hasil karya Prabangkara namun begitu melihat tahi lalat tersebut, maka marahlah sang raja dan menuduh Prabangkara melihat permaisuri tanpa busana karena lokasi tahi lalatnya persis dengan kenyataannya.

Prabangkara pun dihukum dengan diikat di layang-layang, diterbangkan, dan kemudian jatuh di Belakang Gunung yang kini bernama Mulyoharjo. Prabangkara kemudian mengajarkan ilmu ukir kepada warga Jepara dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan hingga sekarang.

Selain cerita tentang Prabangkara, dilansir dari Wikipedia, ada juga cerita versi lain yang berkembang di masyarakat. Menurut sejarah mengapa masyarakat Jepara mempunyai keahlian di pahat ukir kayu adalah konon pada zaman dulu kala ada seorang seniman hebat yang bernama Ki Sungging Adi Luwih. Dia tinggal di kerajaan. Kepiawaian Ki Sungging ini terkenal dan sang raja pun akhirnya mengetahuinya. 

Singkat cerita raja bermaksud memesan gambar untuk permaisurinya kepada Ki Sungging. Ki Sungging bisa menyelesaikan gambarnya dengan baik namun pada saat Ki Sungging hendak menambahkan cat hitam pada rambutnya, ada cat yang tercecer di gambar permaisuri tersebut bagian paha sehingga tampak seperti tahilalat. Kemudian diserahkan kepada raja dan raja sangat kagum dengan hasil karyanya.

Namun takdir berkata lain sang raja curiga kepada Ki Sungging dikira Ki Sungging pernah melihat permaisuri telanjang karena adanya gambar tahi lalat pada pahanya. Akhirnya raja menghukum Ki sungging dengan membawa alat pahat disuruh membuat patung permaisuri di udara dengan naik layang-layang.

Ukiran patung permaisuri sudah setengah selesai tapi tiba-tiba datang angin kencang dan patung jatuh dan terbawa sampai Bali. Itulah sebabnya mengapa masyarakat Bali juga terkenal sebagai ahli membuat patung. Dan untuk alat pahat yang dipakai oleh ki Sungging jatuh di belakang gunung dan ditempat jatuhnya pahat inilah yang sekarang diakui sebagai Jepara tempat berkembangnya ukiran.


Masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat

Ukiran Jepara sudah ada sejak zamannya pemerintahan Ratu Kalinyamat sekitar tahun 1549. Anak perempuan Ratu bernama Retno Kencono mempunyai peranan yang besar bagi perkembangan seni ukir. Di zaman ini kesenian ukir berkembang dengan sangat pesat ditambah dengan adanya seorang menteri bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa dan sangat ahli dalam seni ukir.

Sementara daerah Belakang Gunung diceritakan terdapat sekelompok pengukir yang bertugas untuk melayani kebutuhan ukir keluarga kerajaan. Semakin hari kelompok ini berkembang menjadi semakin banyak karena desa-desa tetangga mereka pun ikut belajar mengukir.


Era R.A Kartini

Sepeninggal Ratu Kalinyamat, perkembangan pengukir Jepara terhenti kalau bukan dibilang stagnan dan baru berkembang kemudian di era Kartini, pahlawan wanita asal Jepara.

Peranan Raden Ajeng Kartini dalam pengembangan seni ukir sangat besar. Ia melihat kehidupan para pengrajin ukir yang tidak beranjak dari kemiskinan dan hal ini sangat mengusik batinnya.

Ia kemudian memanggil beberapa pengrajin dari dearah Belakang Gunung  untuk bersama-sama membuat ukiran seperti peti jahitan, meja kecil, figura, tempat perhiasan, dan barang cindera mata lainnya, yang kemudian dijual oleh Raden Ajeng Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta), sehingga akhirnya diketahuilah kualitas karya seni ukir dari Jepara ini. 

Pesanan pun banyak berdatangan dan hasil produksi pengrajin seni ukir Jepara pun bertambah jenisnya. Sementara itu, Raden Ajeng Kartini pun mulai memperkenalkan karya seni ukir Jepara ke luar negeri dengan memberikan berbagai cindera mata kepada teman-temannya di luar negeri.

Seluruh penjualan barang ini setelah dikurangi oleh biaya produksi, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin yang mana dapat menaikkan taraf hidup mereka yang berkecimpung di bidang ini. 



2. Julukan Kota Ukir


Sebutan "kota ukir" sangat melekat dan menjadi identitas kota Jepara. Bukan hanya sebatas cerita masa lalu, faktanya kota Jepara memang memiliki banyak sekali warga yang mahir dalam mengukir dan hasil ukiran kayu khas Jepara juga sudah diakui secara luas.

Keterampilan mengukir ini bisa dikatakan sebagai warisan dan biasanya diajarkan turun-temurun kepada generasi selanjutnya, baik kalangan pria maupun wanita. Bukan hanya seni ukir, masih banyak seni kerajinan yang ada di Jepara seperti seni patung, seni relief, seni anyaman bambu, seni macan kurung, dsb.



3. The World Carving Center


Saat ini Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir, telah berubah menjadi Kota Ukir Dunia. Setelah meningkatkan citra Jepara “The World Carving Center”, karena produk-produk ukir Jepara sudah sangat terkenal dan sangat banyak orang yang menggemari seni ukiran Jepara dari manca negara.

Produk ukiran Jepara tidak hanya laris di Indonesia tetapi juga sangat populer di pasar internasional. Dulunya ukiran jepara yang semula hanya dibuat dengan motif tradisional Jawa, namun karena mengikuti banyak permintaan pasar internasional, kini juga diproduksi dengan motif lain seperti gaya Inggris gaya Eropa, gaya Perancis, gaya Cina, dll.

Tercatat, pada 2015 sebanyak 113 negara menjadi tujuan ekspor ukiran kayu di Jepara dengan Amerika Serikat sebagai tujuan ekspor utama. yang semakin melekatkan Jepara sebagai Kota Ukir Dunia.

Related Posts

Post a Comment