Arti Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti dan Asal Usulnya

Posting Komentar

Kalimat Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti kerap kita dengar dalam lakon ketoprak, wayang uwong (wayang orang), maupun wayang kulit dalam situasi perang. Misalnya seorang prajurit, senopati, patih atau panglima yang akan berperang dan sang brahma/guru memberi wejangan. Maka di akhir wejangan sang guru akan menutup dengan kalimat,

” Wis ngger anakku mangkatho perang, tumpesen rojo angkoro murko. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti” (sudah anakku berangkatlah ke medan perang, musnahkan raja angkara murka. Suro diro jayaningrat)


Istimewa


Bagi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY dan sekitarnya, kalimat tersebut bisa dibilang menjadi satu dari sedikit budaya Jawa yang tak lekang digempur budaya barat. Dari orang tua hingga anak-anak muda dengan segala tingkat pendidikan, kalimat itu begitu sering diucapkan.

Tapi ternyata masih banyak orang yang belum tahu arti kalimat tersebut. Padahal ungkapan ini cukup sering kita dengar, khususnya bagi masyarakat jawa. Kalimat ungkapan tersebut juga cukup sering muncul di media sosial. Sebagai contoh, pada tahun 2015 lalu, Presiden Joko Widodo melalui akun Facebooknya juga pernah membuat stasus serupa.


Foto: twitter @qronoz



Arti Kalimat Suro Diro Jaya Ningrat Lebur Dening Pangastuti

“Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” atau dalam bahasa Jawa kunonya “Sura sudira jayanikang rat, swuh brastha tekaping ulah dharmastuti” (Segala keangkara murkaan dan kejahatan akan hancur oleh kebaikan dan kebenaran).

Artinya : Bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang, saktinya mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna maka pada saatnya niscayalah akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur.

Bahwasannya betapapun hebatnya seseorang yang sakti mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulang tingkah laku yang "Adigang Adigung Adiguna" (mengandalkan kekuatan maupun kekuasaannya sehingga dapat berbuat sewenang-wenang dengan serta merta aji mumpungnya, maka pada saatnya niscayalah akan jatuh dan lebur oleh ulah pakarti luhur.

Tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju ke arah terciptanya suatu insan yang sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti atau dharmastuti). Nilai-nilai filsafat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

Ungkapan suro diro jaya ningrat lebur dening pangastuti jika diartikan kata per kata maknanya adalah sebagai berikut.


Suro

Suro (Sura) bermakna keberanian. Dalam diri setiap manusia, bersemayam sikap berani yang bisa muncul kapan saja. Bahkan seorang penakut pun sejatinya memiliki keberanian yang bisa muncul ketika dibutuhkan atau karena terpaksa. Ketika benih-benih keberanian ini muncul, ia bisa membawa dampak yang positif dan juga negatif. Di satu sisi sikap berani ini perlu diasah untuk mengarungi kerasnya hidup. Namun di sisi yang lain, bagi yang tidak bisa mengendalikannya, ia bisa menjadikan seseorang lepas kendali, angkuh dengan kemampuannya, dan akhirnya mudah baginya untuk berbuat sewenang-wenang dan bertindak angkara murka. 


Diro

Diro (Dira) artinya yaitu kekuatan. Dengan adanya keberanian, maka kekuatan pun bisa diraih dengan mudahnya. Kekuatan dapat berwujud kekuatan lahir dan kekuatan batin. Kekuatan lahir bisa berasal dari kekuatan fisik atau badan yang kuat, sedangkan kekuatan batin diperoleh atas bantuan dari Allah dan erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Ketika seseorang bisa mengimbangi kekuatan lahirnya dengan kekuatan batin yang berasal dari Allah, maka ia bisa menjadi orang yang membawa manfaat bagi orang lain. Namun ketika ia hanya mengandalkan kekuatan lahirnya saja, maka yang terjadi ia bisa menjadi orang yang terlalu ambisius, selalu berusaha untuk memenuhi hasrat pribadinya, dan hanya peduli pada kepentingan dirinya sendiri. Jika sudah demikian, maka akan lahirlah sikap angkara murka dan kedurjanaan.


Jaya

Arti dari Jaya adalah Kejayaan. Kejayaan atau kesuksesan adalah ukuran seseorang dipandang berhasil dalam menjalani hidupnya. Sering kali kita salah dalam memahami arti dari kejayaan (kesuksesan) ini. Kebanyakan orang menganggap bahwa kejayaan (kesuksesan) adalah ketika seseorang memiliki harta yang berlimpah, ilmu yang tinggi, pangkat dan jabatan yang mentereng, dan hal-hal yang semacamnya. Padahal hal-hal semacam itu adalah bagian kecil dari arti kejayaan yang sesungguhnya.

Seseorang yang meraih kejayaan adalah ketika kekayaan yang dimilikinya menjadikannya semakin dermawan, ilmu yang dimilikinya menjadikan ia semakin rendah hati, serta pangkat dan jabatan yang diraihnya membuatnya semakin merakyat dan peduli dengan yang dipimpinnya. Jadi arti dari kejayaan bukan hanya soal meraih materi atau kenikmatan duniawi semata. Karena jika kejayaan hanya dihitung berdasar materi dan kenikmatan duniawi semata, maka yang terjadi adalah sikap sombong, angkuh dan kebanggaan yang berlebihan akan kemampuan diri yang telah berhasil menggapai apa yang diinginkannya. 


Ningrat

Ningrat biasa diartikan sebagai gelar kebangsawanan, atau kaum yang hidup serba kecukupan dan bergelimang harta. Ningrat juga bisa dimaknai kaum terpandang yang diperoleh dari faktor keturunan, baik itu keturunan raja (bangsawan), atau pun keturunan dari tokoh berpengaruh seperti Ulama, Kyai dan lainnya. Memiliki keluarga ningrat atau bangsawan tentunya patut disyukuri. Hendaknya kelebihan ini bisa menjadikannya seorang yang rendah hati dan peduli kepada orang-orang yang kurang beruntung. Tidak pada tempatnya jika dengan trah keturunan itu seseorang menjadi sombong dan angkuh. 

Hidup seorang ningrat yang serba berkecukupan dan dihormati banyak orang memang sarat akan godaan. Kemewahan dan rasa hormat dari orang lain sering kali membuat seseorang mudah untuk menjadi sombong akan segalanya yang ia miliki. Keadaan seperti itu juga membuatnya mudah untuk merendahkan dan menghina orang- orang yang di bawah derajatnya. Sesuatu yang mestinya disyukuri dengan tindakan baik, namun karena kesombongannya justru akan membuatnya celaka di kemudian hari.


Lebur

Lebur artinya adalah hancur. Lebur juga bisa diartikan dengan sirna, tunduk atau menyerah dan kalah. Maksud dari lebur disini kaitannya dengan rangkaian kata dari falsafah ini adalah akan dilebur atau dimusnahkan atau dihancurkan. Ini mempunyai arti sesuatu yang nantinya akan dihancurkan.


Dening 

Dening adalah bentuk kata sambung yang berarti oleh atau dengan. 


Pangastuti

Arti dari pangastuti adalah kasih sayang. Pangastuti juga bisa diartikan kebijaksanaan, atau benih-benih kebaikan, baik dalam arti ibadah kepada kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ataupun berbuat baik kepada sesama manusia. Seseorang dikatakan bijaksana bila perkataan dan perbuatannya menghasilkan hal yang baik, baik bagi dirinya dan baik bagi orang lain. Dengan bersikap bijaksana maka lingkungan akan menjadi damai dan sejahtera karena tercapainya keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan sikap lemah lembut dan kasih sayang. 

Sering kali kita salah dalam memaknai Lemah lembut. Lemah lembut bukan menunjukan akan kelemahan seseorang. Justru sebaliknya, seseorang yang memiliki sifat lemah lembut dalam arti yang sebenarnya adalah mereka yang telah berhasil mengendalikan kekuatan besar yang dimilikinya. Sehingga dengan kekuatannya itu ia gunakan untuk membantu orang lain, menolong yang membutuhkan dan menebar kebaikan di manapun ia berada. Seseorang yang senantiasa menebar kebaikan kepada sesama, bersikap sopan dan lemah lembut kepada siapa pun, maka dirinya akan mendapat kekuatan dari Allah sehingga ia akan disegani dan dihormati banyak orang. Dengan sikap positif yang dimilikinya itu, dia juga akan memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Tuhan dan di antara umat manusia.


Selanjutnya, bagaimana asal-usul kalimat suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti?

Memiliki makna yang mendalam, sebenarnya asal usul kalimat itu dari mana sih? Siapa  yang pertama kali menggunakan dan kenapa dia sampai menciptakan rangkaian kata yang spektakuler tersebut.

Menurut beberapa sumber, ada yang menyebut bahwa Ronggowarsito-lah yang pertama kali memunculkan kalimat Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti. Ia adalah seorang pujangga kondang Kraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Kalimat itu bagian dari tembang Kinanthi yang ia ciptakan.

Tembang Kinanthi tersebut berbunyi seperti berikut:

Jagra angkara winangun

Sudira marjayeng westhi

Puwara kasub kawasa

Sastraning jro Wedha muni

Sura dira jayaningrat

Lebur dening pangastuti


Ada juga yang menulis di baris keempat dengan “Wasita jro wedha muni”. Dua kalimat itu tidak memiliki makna yang berbeda.

Makna dari tembang itu kurang lebih menggambarkan seseorang yang memiliki kekuasaan besar yang mengakibatkan dia lupa diri. Dia mencoba memaksakan kehendak kepada siapapun. Namun keangkaramurkaannya itu bisa luntur ketika dihadapi dengan penuh kelembutan, senyum dan kata-kata yang sopan.

Latar belakang Ronggowarsito membuat tembang dengan syair seperti itu

Syair itu muncul untuk menggambarkan sebuah kejadian yang dialami oleh Pangeran Citrasoma, putra mahkota Prabu Ajipamasa. Sebagai calon pengganti raja tentu dia memiliki pengaruh dan kekuasaan yang hampir tidak terbatas. Mungkin hanya ayahnya yang masih bisa membatasi kekuasaan itu. Yang lain, tidak boleh melawan.

Hingga suatu hari, Citrasoma yang sudah mulai dewasa jatuh cinta kepada seorang wanita cantik jelita. Sayangnya, wanita itu telah memiliki suami yakni Tumenggung Suralathi.

Tetapi yang namanya anak raja, tak peduli dengan hal itu. Dia tetap mencoba merebut Nyai Pamekas, nama wanita itu dari suaminya. Bahkan mencari-cari kesempatan untuk mendekati untuk melakukan tindakan tidak senonoh.

Hingga suatu malam, saat Tumenggung Suralathi tidak di rumah, Citrasoma pun menyelinap ke rumah Nyai Pamekas. Tentu saja wanita itu kaget dan ketakutan. Apalagi Citrasoma dengan tegas mengatakan keinginannya untuk bercinta dengan dirinya.

Nyai Pamekas tahu siapa yang dihadapi. Seorang pemuda yang sedang dilanda nafsu serta memiliki kekuasaan besar. Maka dia berupaya dengan sekuat tenaga untuk menyadarkan Citrasoma dari niatnya yang salah itu.



Sumber:

santossalam.blogspot.com

jejaktapak.com

Related Posts

Posting Komentar